Senin, 25 November 2013

"Kamu kenapa bicara cinta, demam ya?"



Ketika awan kelabu menggelantung di langit siang ini, kumpulan siswa
yang maha harus terduduk di kursi.

Saat seorang sibuk di hadapan, berjibaku dengan tampilan layar demi
ilmu masa depan.
Mata-mata muda itu tertuju ke arah papan, sementara pikiran mereka
melayang-layang, sejauh fantasi belia terbentang.

Awan-awan makin kelabu, sementara beberapa dari kami masih membisu.
Entah tak mau tahu atau benar-benar tak tahu, apa yang diracau seorang
yang kerap dipanggil "Bu"

Namun dalam diamku, racauan "Bu" kurekam dalam kertas sidu dengan tinta biru.

Di hadapan, "Bu" masih sibuk menampilkan banyak tulisan.
"Bu" bilang, "Siang ini kita pelajari Cooperative Learning."
Dan tinta biruku mulai menari bersama fantasi.

Fantasiku ikut berkelana ketika "Bu" cerita tentang Unsur dalam
rangkaian materinya.

Ketika unsur dari Cooperative Learning dilafadzkan "Bu",
otakku tak berhenti untuk berkelana bersama imaji

Analogi dan tanda tanya mulai tercipta
dan seolah semua unsur dari materi ini berdermaga pada sebuah kata,

Cinta

Bagaimana bisa unsur itu bermain bersama cinta?

Ketika unsur itu dibangun di atas pondasi-pondasi yang sama, jawabnya..

Saling Ketergantungan Postif
bukankah Adam dan Hawa juga saling melengkapi kealpaan?

Tanggung Jawab
ketika apa yang kita lakukan itu beban, tetap kita pikul.
tentu lebih ringan jika bersama

Tatap Muka
bahkan yang saling mencinta pun tak seberuntung mereka.
kamu tahu kadang jarak itu memisahkan?

Komunikasi
diam membisu tak kan membuatmu lebih tahu, kan?
bahkan perasaanmu pun tahu

Evaluasi
manusia tak luput akan salah. namun saat kesalahan tak hanya dipendam sendiri,
tapi diperbaiki, itulah evaluasi.

dan itu lah kenapa kusebut unsur materi ini Loverative Learning.

Tinta biruku pun lebih tahu dariku apa itu cinta,
lebih dari apa yang aku tahu.

Teman sebangku pun meyakinkanku,
ketika dia berkata..
"Kamu kenapa bicara cinta, demam ya?"


Strategi Pembelajaran Ekonomi, GE 2-106
16 November 2013
(_akku.ikka)

"Yang Tak Tergantikan"


  Ada sebuah kisah yang telah banyak orang yang meneteskan air mata karenanya. 
Ini kisah yang biasa dan sering diperdengarkan. 
Tapi dapatkah makna itu tersampaikan dan tertanam lekat dalam lubuk hati kita yang tak begitu dalam ini?. Kisah seorang ayah dan anaknya. 
Ayah sudah sangat tua, dia membesarkan anaknya dengan apa yang dimilikinya. 
Bukan sebuah materi yang dia banggakan, ajarkan, juga terapkan. Satu hal saja “ kasih sayang”. Bersyukurlah… saat kita mendengar kabar yang mungkin saja membukkakan hati seseorang mereka dan tentu kita masih ada dalam dekapan dunia.

Anak lelaki itu duduk bersama dengan ayahnya. Dia begitu renta.. sebuah kursi panjang berdiri kokoh dibawah sebuah pohon rindang. Mereka saling diam…
            “ apa itu?” tanya ayahnya saat sebuah burung turun dan berdiri lalu mengais-ais tanah mencari makanan. Burung itu berjuang dalam hidupnya...
            “ itu adalah seekor burung gereja” anak lelaki itu menjawab.
            “ apa?”
            “ seekor burung gereja”
            “ burung apa itu?”
            “ itu adalah burung gereja”
            “ burung apa itu?”
            “ itu adalah burung gereja”
            “ burung apa itu?”
            “ itu adalah seekor burung gereja. Aku telah mengatakannya berulang kali ayah..” emosi sang anak melonjak. Dia telah menjawab pertanyaan itu berulang kali. Dan tidakkah ayahnya itu mendengarkannya?.
Sang Ayah berdiri perlahan dan berjalan masuk ke dalam rumah dengan tertatih-tatih. Anak lelaki itu tetap diam saja tak bergerak sedikitpun. Ayah anak itu kembali lagi untuk duduk disamping anaknya setelah beberapa saat. Dia kembali dengan membawa sebuah buku.
            “ ini adalah buku harianku. Hm.. saat kau masih berumur lima tahun. Kita duduk bersama seperti ini. Seekor burung gereja hinggap pada tanah lapang didepan kita. Dan kau bertanya ‘ apakah itu?’. aku menjawabnya ‘ itu adalah burung gereja’. Kau menanyakan hal itu berulang kali. Dan akupun menjawabnya berulang kali seperti apa yang kau katakan.. “ Ayah menceritakan kisah masa kecilnya.
Ayah hanyalah seorang yang tua renta seperti ini. Ayah hanya ingin kau menjawab pertanyaan ayah tadi. Ayah ingin disisa hidup ayah ini. Ayah melihatmu bahagia. Ayah tak punya apapun lagi selain kau. Ayah berharap jika kau akan merawatku sebagaimana aku merawatmu dulu. Tapi itu hanyalah sebuah harapan. Saat kau masih bayi dan mulai belajar untuk berjalan. Ayah selalu mendampingimu. Saat kau terus saja jatuh dan berusaha terus dan terus sampai akhirnya menjadi seperti sekarang. saat kau lahir… ayah ingin sekali kau menjadi harapan terbesar. Sebuah cita akan cinta yang agung. Harapan yang besar untuk membuat dunia lebih baik..

Cerita-cerita dan cerita. Hanya itu yang kita dengar. Ini cerita yang sering kita dengar bukan? Apakah harapan itu salah?. bagaimana kita akan berjalan?. Akankah pertanyaan itu hanya kita jawab dalam hati?!
Tiap kata ini adalah kata. Yang mungkin akan hilang pada jalannya detik berikutnya bukan?. Lalu buatlah sesuatu kenyataan terlihat sebagaimana mestinya kenyataan. Kita takkan dapat berubah selama kita diam. hal yang penting kita selalu anggap remeh dan terlihat bahwa hal yang begitu lemah kita anggap kuat?. Ya! Kelemahan kita adalah kekuatan kita. Akankah bisa kata-kata itu terwujud?
BISA! Dengan segala keyakinan dan keteguhan hati. Tuhan melihat.. saat kita ada Dia pun ada. Jangan pernah terus bertanya tentang “ apa” tapi “bagaimana”! dan jika kau mau kau bisa merubah dunia.. (an opus by Anandhiya 13A)

Kamis, 14 November 2013

Teh Celup Cinta



Teh Celup Cinta
Seperti teh celup! Menyeruak lantas pergi! Merapi dan Merbabu pun terhenyak menyaksikan sandiwara ini. Bercengkerama mentertawakan aku yang terjatuh dalam jebakannya. Sekejap tetapi cukup menyakitkan! Engkau tahu tentu lebih tahu, lebih paham dan pastilah ada hikmah di balik semua ini.
Seulas senyumku masih akan tetap ada. Tidak berkurang kuantitasnya tidak juga menguap kadar manisnya. Karena hanya dengan senyum inilah aku bisa meyakinkan diriku bahwa aku masih menang atas dirinya! Meski harus merasakan sakit. Tetapi sakit ini akan aku kenang, karena sakit inilah satu-satunya yang akan mengingatkanku agar hati ini tidak akan melambung terbuai oleh buih-buihnya.
Meskipun demikian, aku tetap tidak ingin memantik atau menggenggam bara api. Biarlah rintik hujan sore ini membantuku menghanyutkan sakit ini. Biarlah aku tunggu terik sang surya memancarkan radiasinya. Meski pun aku sendiri tidak pernah tahu berapa lama aku harus menunggu. Tetapi aku yakin bias-bias pelangi akan terlukis dengan indahnya di kanvas biru berbaur putih yang menjulang tinggi tak teraih olehku.
Terimakasih dariku tetaplah pantas untuk kau terima. Meski mungkin tak akan terdengar sampai telingamu. Tetapi ucapan ini tulus. Terimakasih telah mengajariku bagaimana caranya tertawa setelah aku hampir lupa caranya sekaligus terimakasih juga kau telah mengingatkanku bagaimana caranya menangis setelah aku lupa caranya dan aku benci menyadari ada bening di ujung mataku. (Indah)

Edisi II



Kamu ganteng, kamu cantik, aku bahagia bisa bersama kalian J

Aku yakin BANGET, Tuhan memberikan kebahagiaan pada setiap orang dalam porsi yg sama walaupun wujudnya berbeda-beda. ada yg bahagia karena memiliki orang tua yang penyayang, ada yang bahagia karena memiliki pendamping hidup yang nyaris sempurna, dan sebagainya. tinggal bagaimana cara kita mampu membuka celah kebahagiaan tersebut. mampukah kita melihat sesuatu barang sesepele apapun menjadi kebahagiaan. syukuri apa yang kita miliki. niscaya hidupmu akan bahagia.
orang yang merasa susah, itu karena dia lupa bersyukur. lupa atau tidak mau bersyukur itu sama dengan lupa atau TIDAK MAU membuka jalan untuk bahagia.
aku, merasa HIDUPKU SANGAT BAHAGIA. aku tidak secantik luna maya, aku tidak seseksi syahrini, akupun tidak sepandai habibie. Hidupku biasa saja, tidak berlimpah harta. aku tidak punya piala tanda prestasi tidak pula sertifikat penghargaan atas bakat. TAPI aku sangat bahagia :) AKU PUNYA CARAKU UNTUK BAHAGIA. bukan harta bukan pujian orang lain bukan pula keindahan fisik semata. aku sangat bahagia :)
jangan pernah menutupi jalan untuk bahagia. BERSYUKURLAH J
Terkadang kita perlu waktu kusus untuk menyadari betapa besar anugerah yang tuhan berikan kepada kita. Kadang aku juga perlu menutup mata sejenak untuk bisa lebih mendengarkan orang lain.
Bagiku semua setiap wanita itu cantik dan laki-laki itu ganteng.
Menurutku, setiap wanita itu memiliki cantiknya masing-masing dan setiap laki-laki itu mempunyai ganteng mereka masing-masing.
Diam diam aku seneng ngeliatin wajah orang-orang di sekitarku. Hehee. Kali ini aku serius, setiap orang memiliki KETAMPANAN DAN KECANTIKAN MASING-MASING. Syaratnya, lihatlah hati mereka dengan hati kita J aku jamin, kalo udah kenal hatinya, kecantikan ataupun ketampanan fisik mereka akan terpancar dengan sendirinya J J
Semoga Bermanfaat (RiZuke)

Edisi 1 ( 15 November 2013)



MEMBERI atau MENGHUTANGI
?????

Malam ini saya mau nulis tentangg... emmm sesuatu yang sempat lama bersarang di otak saya. Bahkan mempengaruhi sendi kehidupan saya dan menjelma menjadi kepribadian. Sampai pada suatu titik saya menganggap semua ini ngga adil. Okay, kini saya temukan jawaban.
Dulu, saya pepatah itu sebenernya siapa) “kalo kamu mau dihargain orang lain, kamu juga harus menghormati orang lain”. saya pegang tu mantra, kapanpun dan di belahan bumi manapun saya berada. Saya selalu berpikir kalau saya pengen orang lain care sama saya, maka saya juga harus care sama mereka. Kalau saya pengen orang lain ramah dengan saya, berarti saya juga harus ramah sama mereka.
SEOLAH SEMUANYA AKAN OTOMATIS BERBANDING LURUS. Tapi itu bullshit. Bohong!!
Bosen gw baik sama orang. Gw udah pasang tampang ramah, eh doi ngeselin. Ngga ngehargain gw sama sekali. Rasanya tu “najis banget” buat memulai kebaikan kalo tau balasannya kaya gitu. Gw udah coba ga itungan sama orang, gw coba sebisa mungkin mbantu mereka kalo lagi susah. Tetep ada aja orang-orang ngeselin yang ngga tau diri. Haruskah gw menjelma jadi orang yang sama sama ngeselin biar semua adil?
Hidup bersama orang banyak tentu akan banyak pula karakter yang bakal kita jumpai. Dari beberapa orang ngeselin ngeselin itu, ada juga segelintir orang-orang baik. Baik banget malahan. Gw aja sampai heran, kok bisa ada orang sebaik itu, sedangkan di belahan bumi lain orang orang mulai bertransformasi menjadi sangat jahat.
Alhasil, terbentuklah pribadi gw yang memperlakukan orang lain berdasarkan apa yang mereka dulu lakukan. Lo jual gw beli. Lo baik, gw baik. Tapi kalo lo ngajak main jahat gw jga siap. Cuman efeknya gw jadi org yg ngga mau membuka diri. Harus dipancing dulu. Dan yang jelas ketika gw bertemu orang jahat, jiwa gw dipenuhi sama rasa benci. Asli, ga enak banget.
Setelah lama berpetualang, ombak kehidupan menghanyutkan gw mendarat menuju pesisir cinta. Syukur deh, hati gw hidup kembali. Gw mulai mengenal dan bergaul dengan orang-orang yang berhati emas. Dari situ gw jadi mikir tentang “KETULUSAN” sama “KEBAIKAN”.

Bahwa kebaikan harus ditunaikan dengan ketulusan. Berbuat baik itu, bukan karena ingin dibalas dengan kebaikan. Berbuat baik itu “diberikan”, bukan “dihutangkan”. Iya kan? J
Bagaimanapun mereka, kita harus selalu menebarkan kebaikan dengan sesama. Gw juga lagi berusaha nih, makanya melalui tulisan ini gw ngajak temen temen J J J
Intinya, ketika kita memberi energi positif pada orang lain, berikan itu sebagai hadiah. Cukup yakin Tuhan yang membalasnya.
Kalo kita senyum sama orang, tapi doi ga bales senyum, jangan marah. Tidak masalah. Kita kan Cuma memberi senyuman, bukan menghutangi senyuman JJJJJ (RiZuke)