Senin, 20 April 2015


SEKUAT KAYU JATI
By: JojoHye-Xung

Rapuh dan keropos
Sungguh menyebalkan
Aku kayu mahoni
Hanya mampu berhasrat
Untuk sekuat kayu jati
Jadi anak panah yang melesat tajam membelah angin
Aku juga ingin terbang melandas dari gendewa Arjuna
Memporakporanda padang Kurushetra
Tapi aku hanya kayu mahoni
Cukup ditup langsung limbung

Ibu, takdir atau nasib yang lebih kejam?
Cita-citaku tak dapat teraih
Ibu, apa beda menyerah dan putus asa?
Lalu, kisahkan tentang berjuang dan tawakal, Ibu
Segala yang aku tak mengerti dalam hidup

“Nak,” jawab Ibu, “hidup adalah dirimu.”
“Hidup adalah kau yang genggam, dan Tuhan adalah hakim yang adil.”
Ibu bercerita bahwa semua tidak mungkin akan nyata
Cukup dan yang mampu
Menjadi bijak lebih baik dan terhormat

Sabtu, 18 April 2015

Rabu, 30 April 2014

Sepi


Kala mentari datang menyapa
Caci maki sudah menghampiri
Aku terpojok di sudut seppi
Sendiri…
Tanpa ada yang menemani

Saat matahari memanjat dinding langit
Aku pun masih begini
Tak ada yang berganti
Beban semakin memenuhi diri ini

Aku ingin menangis
Menangisi semua ini
Tapi aku yakin
Tak ada yang peduli

Aku ingin berteriak
Memaki semua yang sudah memaki
Tapi sekali lagi
Aku yakin
Tak ka nada yang peduli

Dalam hati ku berbicara
Memendam merupakanlah cara
Aku tak ingin sepi ini
Selalu hinggap di hati 


 @inrafinura

Rabu, 19 Februari 2014

AKU SELALU MENUNGGU MU DISINI


Dalam seluruh diam ku selalu mengagumi mu
Dalam hening aku memikirkan mu
Dalam doa aku merintih mengharapkam diri mu
Dalam kesendirian aku masih terus memuja nama mu.

Namun engkau melepaskan harap Ku
Namun engkau mengabaikan maksud Ku
Namun engkau menelantarkan diri Ku
Namun engkau membiarkan keinginan Ku.

Cukup aku merasa memuja diri mu
Cukup aku merasa memahami diri mu
Cukup aku merasa memparhatikan diri mu
Cukup aku merasa menjadi pelindung bagi mu.

Teruslah mencari dunia engkau sendiri
Teruslah mengejar ambisi engkau sendiri
Teruslah menjalani hidup yang engkau pilih
Teruslah menentukan masa depan engkau sendiri

Disini aku akan menanti mu
Disini aku merindukan mu
Disini aku slalu berdoa untuk mu
Disini aku mengharap kebahagiaan mu.

@anonymous

Sabtu, 11 Januari 2014

Sunrise Merapi, 11 Januari


“Haah,” aku menghembuskan napas.
Di sini lagi aku menginjakkan kaki. Di hamparan butir-butir pasir dan bebatuan tanpa satupun warna hijau tanaman. Di belakangku tampak awan bergerumbul dari kawah di bawah sana, menandakan gunung ini masih dalam keadaan ‘prima’. Di depanku terhampar awan sejauh mata memandang, bak permadani yang menyelimuti permukaan bumi. Dan di penghujung permadani itu, sang mentari tampak malu-malu menyapaku. Hai, sunrise di Puncak Merapi, apa kabarmu hari ini?
Aku memejamkan mataku, menarik napas dalam-dalam, dan menghembuskannya. Berulang-ulang. Hingga hembusan ketiga, aku  kembali membuka mata. Pemandangan di depanku lagi-lagi mendorongku jauh ke belakang, kembali pada semua memori yang selalu berusaha ku pendam dalam-dalam. Dan dia mulai membuka kotak kenangan itu. Membawaku kembali di saat aku pertama mengenalmu.
Saka, itulah nama yang kau sebutkan saat kita berkenalan dalam sebuah pendakian. Aku tidak tahu apa arti namamu, tapi aku suka sensasi dalam suaraku ketika mengucapkannya. Sampai kau mengatakan Saka berarti dahan, dan aku mengenalkan diriku sebagai Laura yang memiliki arti selembut daun. Dahan dan daun, ya, kita cocok untuk membuatnya menjadi pohon, katamu. Aku tertawa. Kau pun tertawa. Detik berikutnya kita pun bercakap seperti sahabat lama. Benang merah, perlahan tapi pasti mengeratkan ikatannya. Dari sekedar kata-kata, munculah letupan-letupan rasa yang semakin nyata. Dan ketika sadar, aku telah jatuh cinta.
 

Senin, 06 Januari 2014

Sebuah Puisi : Bumi Ini Makin Tua

Bumi Ini Makin Tua

Oleh : @zghll

Bumi ini makin tua
  batuk-batuk bak gunung meletus
  bersin-bersin jadi tsunami

Tubuhnya pun mulai rapuh
  mulai longsor sana sini
  bahkan kadang juga buyutan
  menggoncang manusia dengan gempa

Dan saat waktu terus memakan bumi
  manusia berubah muka jadi pencela
  melihat bumi sebagai bencana

Laknatlah para khalifah itu!
Bukankan bumi tua ini amanah mereka?


Malam menjelang UAS Matematika Ekonomi,
6 Januari 2014

Senin, 25 November 2013

"Kamu kenapa bicara cinta, demam ya?"



Ketika awan kelabu menggelantung di langit siang ini, kumpulan siswa
yang maha harus terduduk di kursi.

Saat seorang sibuk di hadapan, berjibaku dengan tampilan layar demi
ilmu masa depan.
Mata-mata muda itu tertuju ke arah papan, sementara pikiran mereka
melayang-layang, sejauh fantasi belia terbentang.

Awan-awan makin kelabu, sementara beberapa dari kami masih membisu.
Entah tak mau tahu atau benar-benar tak tahu, apa yang diracau seorang
yang kerap dipanggil "Bu"

Namun dalam diamku, racauan "Bu" kurekam dalam kertas sidu dengan tinta biru.

Di hadapan, "Bu" masih sibuk menampilkan banyak tulisan.
"Bu" bilang, "Siang ini kita pelajari Cooperative Learning."
Dan tinta biruku mulai menari bersama fantasi.

Fantasiku ikut berkelana ketika "Bu" cerita tentang Unsur dalam
rangkaian materinya.

Ketika unsur dari Cooperative Learning dilafadzkan "Bu",
otakku tak berhenti untuk berkelana bersama imaji

Analogi dan tanda tanya mulai tercipta
dan seolah semua unsur dari materi ini berdermaga pada sebuah kata,

Cinta

Bagaimana bisa unsur itu bermain bersama cinta?

Ketika unsur itu dibangun di atas pondasi-pondasi yang sama, jawabnya..

Saling Ketergantungan Postif
bukankah Adam dan Hawa juga saling melengkapi kealpaan?

Tanggung Jawab
ketika apa yang kita lakukan itu beban, tetap kita pikul.
tentu lebih ringan jika bersama

Tatap Muka
bahkan yang saling mencinta pun tak seberuntung mereka.
kamu tahu kadang jarak itu memisahkan?

Komunikasi
diam membisu tak kan membuatmu lebih tahu, kan?
bahkan perasaanmu pun tahu

Evaluasi
manusia tak luput akan salah. namun saat kesalahan tak hanya dipendam sendiri,
tapi diperbaiki, itulah evaluasi.

dan itu lah kenapa kusebut unsur materi ini Loverative Learning.

Tinta biruku pun lebih tahu dariku apa itu cinta,
lebih dari apa yang aku tahu.

Teman sebangku pun meyakinkanku,
ketika dia berkata..
"Kamu kenapa bicara cinta, demam ya?"


Strategi Pembelajaran Ekonomi, GE 2-106
16 November 2013
(_akku.ikka)